Sabtu, 10 Mei 2008

SYECH ABDUL QODIR JAELANI

SYECH ABDUL QODIR JAELANI

Beliau dilahirkan di jaelan pada tahun 470 hijriah (1077 Masehi) dan wafat tahun 561 H (1166). Seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Tuhan. Pagi dan malam hari dia mengajarkan berbagai ilmu agama. Seusai shalat dzuhur memberi fatwa atas bermacam persoalan. Menjelang waktu maghrib membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Selesai shalat maghrib barulah makan malam, kerena dia puasa sepanjang masa.
Orang suci itu masih keturunan Rasulullah, baik dari garis ayah maupun ibu. Ayahnya adalah keturunan Hasan bin Fatimah binti Rasulullah. Sedangkan ibunya keturunan Imam Husein bin Fatimah binti Rasulullah.

Pendiri tarikat Qodiriyah ini mencapai tingkat rohani yang sangat tinggi. Dia bergelar glaust, suatu peringkat rohani setingkat dibawah nabi. Selain itu diapun bergelar sultonul auliyah (raja para wali).

Karena kesibukanya melayani umat dia tidak sempat memikirkan untuk menikah. Samp[ai usia 51 tahun tetap membujang. Tetapi demi memenuhi sunah rasul akhirnya diapun menikahi empat wanita soleha. Dari pernikahannya tersebut syech dikaruniai 49 putra. Dua puluh laki-laki dan yang lainnya perempuan.

Kesalehanya dan kedekatannya pada Tuhan menimbulkan banyak karomah pada dirinya. Dalam kitab manakib, yang biasa dibaca kaum santri pada waktu-waktu tertentu dikisahkan berbagai macam karomah yang dimilikinya.

Diantara karomahnya adalah kelompennya (sandal bakiak) yang mampu mengagalkan perampokan. Syech Abu Umar Usamn As- soirofi dan Syech Abdul Muhammad Abdul Haqi Al-harimiyah menceritakan : bahwa mereka pernah bersama-sama syech Abdul Qadir di Madrasahnya pada hari ahad tanggal 3 syafar tahun 555 H. Mereka melihat Syech berwudzu lalu melakukan shalat dua rakaat. Ketika itu syech berwudzu dengan kelompennya. Seuasai wudhu Syech melemparkan kelompennya sejauh-jauhnya hingga tak kelihatan seraya berteriak dengan keras. Kemudian melemparkan lagi kelompen yang satunya sambil berteriak seperti tadi. Setelah itu bel;iau duduk dan tak seorang pun yang berani menanyakan maksud perbuatannya.

Dua puluh tiga hari kemudian datanglah serombongan musafir dari negeri jauh. Mereka mengahadap syech untuk menunaikan najarnya. Syech mempersilahkan mereka menghadap dan menerima najarnya. Maka merekapun memberikan emas, pakaian sutra, pakaian bebulu sutra, dan kelompen milik kanjeng syech.

Melihat hal itu maka syech Abu Umar Usman dan Abu Muhammad Abdul Haqi bertanya kepada mereka (para musafir) apa yang telah terjadi pada mereka dan apa arti najar tersebut. Selanjutnya para musafir tersebut bercerita : Pada tanggal 3 syafar yang lalu kami dalam perjalanan. Tiba-tiba datanglah segerombolan manusia menghadang kami perampok yang dip[im[pin dua orang itu merenggut semua harta kami. Lalu kamipun turun ketepi sungai. Disana kami brunding dengan kawan-kawan hingga mencapai kesepakatan bernajar dengan lantaran kanjeng syech jika harta dan jiwa kami selamat akan memberikan sebagian harta tersebut kepada kanjeng syech. Ternyata Allah mengabulkan nazar kami. Tak lama setelah bernajar kami mendengar suara keras yang memekikan telinga sebanyak dua kali. Suara itu berdesing memenuhi seluruh jurang hingga kami melihat mereka(para perampok) lemah lunglai gemetar karena takut. Kami menduga ada perampok lain yang merebut rampasan mereka.

Tiba-tiba diantara perampok ada yang mendatangi kami dan berkata: “ sini, ikuti kami! Ambil kembali harta kalian dan periksalah apa yang membuat kami bingung. Kemudian mereka membawa kami kepada kedua pemimpinnya. Ternyata mereka berdua telah mati dan disampingnya masing-masing ada kelompen yang masih basah dengan air. Karena hal itu, yang lainnya ketakutan sehingga harta yang mereka rampas mereka kembalikan kepada kami. Mereka berkata bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi sebelumnya”.

Demikianlah, karomah syech Abdul Qadir Jaelani, wali yang sangat popular dan dihormati umat islam. Bukan karena saja ketinggian ilmunya, tapi juga karena kesolehannya dan kedekatannya dengan Allah SWT.

Tidak ada komentar: